Remah Roti

Bagikan artikel ini:

Matahari telah condong ke ufuk barat. Hutan yang tadinya terang benderang mulai temaram. Suara jangkrik terdengar berdendang.

Sabil ingin menikmati udara sore. Ia bergegas keluar dari sarangnya. Berjalan-jalan menikmati udara sore adalah salah satu kegemarannya.

Beberapa pohon yang baru tumbuh Sabil amati dengan baik. Ia sangat senang hutan tempat dia tinggal setiap hari ada makhluk hidup baru bertumbuh. Kemudian, ia meneruskan perjalanannya melewati celah akar pohon besar. Bagi tubuhnya yang imut, pohon itu seperti raksasa hutan.

Mata Sabil berbinar. Ia menemukan remah roti. Ia segera menghampiri. Menggigitnya sedikit dan merasakan kelezatan yang belum pernah ia rasakan.

Sabil tak mau memakannya sendiri. Ia ingin berbagi dengan keluarganya. Ia berusaha mengangkatnya, tapi gagal. Bolak-balik dia berusaha, remah roti itu pun tak terangkat.

Seekor Jangkrik menghampiri. Ia menyapa, “Apakah kau butuh bantuan Sabil?”

Sabil menoleh pada sumber suara. “Oh, Jangkrik Jinang. Tidak perlu, aku bisa sendiri.”

Jinang tidak pergi. Ia tetap mengamati apa yang dilakukan Sabil sahabatnya.

Beberapa saat berlalu. Suara nafas Sabil menderu, tanda ia kelelahan. Jinang yang melihatnya merasa kasian.

“Sabil, meminta bantuan pada yang lain itu bukan tanda kita lemah lho,” ucap Jinang.

Sabil terkekeh. “Kamu benar, aku tidak bisa mengangkatnya sendiri. Aku butuh bantuan.”

“Baiklah, dengan senang hati aku akan membantumu. Tenang saja, aku tidak akan memakan remah rotimu ini. Aku tak suka. Aku lebih suka rumput segar daripada makanan manusia,” ucap Jinang sembari mendekati remah roti.

“Aku tahu,” ucap Sabil dengan senyum sumringah.

Jinang mengangkat remah roti dan melompat cepat ke rumah Sabil. Sabil berlari mengikuti Jinang. Meski sudah berusaha sekuat tenaga karena kakinya sedikit lebih pendek dibandingkan semut lainnya, ia tidak bisa mengejar Jinang.

Jinang meletakkan remah roti di pintu rumah Sabil. Ia menunggu sahabatnya sambil berdendang.

Sabil sampai depan rumahnya ngos-ngosan.

“Lihat, paketmu sudah sampai Tuan Sabil. Kau tinggal menikmatinya dengan keluargamu untuk makan malam ini.” Jinang dengan senang hati menyentuh remah roti yang sudah ada di depan rumah Sabil.

“Terima kasih sahabatku. Kau memang selalu bisa diandalkan. Terima kasih sudah membantu,” ucap Sabil.

“Sama-sama,” ucap Jinang. Ia berlalu sambil berseru, “Aku pulang dulu ya! Sampai jumpa esok!”

Sabil mengangguk. Ia memanggil keluarganya untuk mengangkat remah roti bersama-sama agar tidak berat.

Hari ini ia belajar pepatah yang mengatakan, “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”.

Batu, 2 Januari 2026
Penulis : Choirin Fitri
Editor : Ummik Gufy

Bagikan artikel ini:

Baca Juga