Ada Harimau?!

Bagikan artikel ini:

Pada suatu sore yang hangat, Sabil dan teman-temannya beristirahat di rumah masing-masing. Seharian bermain dan membantu mencari makanan sungguh melelahkan. Si kancil Karim perlahan menuju rumahnya, Hasan laba-laba imut merayap ke jaring-jaring, Laila terbang pelan menuju sarang. Begitu pula si Jangkrik Jinang, menghangatkan tubuh di balik timbunan daun kering. Sebelum malam tiba, mereka telah berada dalam rumah masing-masing. Bersiap untuk istirahat.

Sabil yang seharian juga sibuk, duduk bersandar di akar pohon besar. Matanya menatap Hasan yang bergelantungan di atas dedaunan, tepat di atas Sabil beristirahat. Sabil memang tidak biasa

langsung masuk ke lubang atau sarangnya. Dia beristirahat barang sejenak di depan sarang untuk sekedar melepas penat.

Kelopak mata Sabil perlahan-lahan menutup. Pandangannya gelap total. Sabil tidak lagi melihat Hasan dengan jelas.

“Hasan, Hasan,” kata Sabil.

Namun, si laba-laba Hasan tidak menyahut. Setengah sadar Sabil terbangun. Khawatir tidak terdengar suara Hasan. Sabil kini sepenuhnya terjaga kembali. Ia bangkit dari tidurnya, merangkak ke batang pohon, panik mencari Hasan. Syukurlah, ternyata Hasan sudah tidur di atas daun.

“Pantas saja diam. Ternyata Hasan sudah tidur,” gumam Sabil.

Sabil kembali menuruni batang pohon, menuju sarangnya.

Ta-tapi…

“Hah? Suara apa itu?” kata Sabil. Ada sesuatu yang bergerak-gerak di balik semak dekat pohon. Dada Sabil berdebar tak menentu.

“Ja-jangan-jangan … Itu harimau mencari mangsa?” kata Sabil dalam hati. Lututnya gemetar. Tangannya yang sudah menyentuh pintu sarang, mendadak lunglai. Di dalam sarang ada banyak saudara dan koloni sedang beristirahat.

Sabil tidak akan membiarkan koloni terluka diserang harimau. Tapi, bagaimana caranya mengalahkan hewan yang jauh lebih besar itu?

Sambil memikirkan cara, Sabil berjalan perlahan mendekati harimau.

Aha! Sabil punya ide. Kini Sabil berbalik menjauh dari harimau. Dia memanjat rumput tepat di atas harimau.

Satu, dua, tiga! Yup! Sabil melompat ke telinga harimau. Sekuat tenaga, Sabil menggigit telinga harimau.

“Aung!” teriak harimau kaget. Serta merta hewan besar itu mengibaskan telinga. Tubuh kecil Sabil meluncur terpelanting ke tanah.

“Berhasil!” kata Sabil.

“Meow, meow!”

“Lho, kok, suaranya seperti itu?” tanya Sabil dalam hati. Namun, Sabil segera mengambil langkah seribu menuju sarang.

Sesampainya di sarang, Sabil mengatur napasnya. Lari terbirit-birit membuatnya benar-benar lelah.

“Ada apa, Sabil?” suara Hasan mengagetkan Sabil. Hasan terbangun mendengar keributan.

“A-ada harrr … harimau, di sana,” sahut Sabil dengan napas tidak teratur.

“Benarkah?” tiba-tiba terdengar suara Laila dari ranting di atas Sabil. “Biar aku lihat sendiri.”

Laila terbang pelan. Malam gelap seperti ini sangat beresiko terbang dengan kekuatan penuh. Tak lama kemudian, Laila kembali.

“Bagaimana, Laila? Apakah harimau sudah pergi?” tanya Sabil penasaran.

“Harimau apa, Sabil? Itu anak kucing,” jelas Laila.

“Ah, coba lihat lebih teliti. Aku tadi yang mengusirnya,” jawab Sabil.

“Laila benar, Sabil. Bukankah tadi terdengar meong-meong suara kucing?” kata Hasan.

“Kau salah lihat, Sabil. Aku juga bertemu anak kucing itu tadi sore,” kata Karim dari balik pohon.

“Syukurlah,” kata Jinang. Jangkrik kecil itu rupanya menguping pembicaraan teman-temannya dari tumpukan daun tempat tidurnya.

“Mari tidur kembali, teman-teman. Mengantuk sekali,” kata Laila. Ia bersiap terbang ke sarangnya.

“Baiklah teman-teman, mari kita tidur. Maaf telah membangunkan kalian,” kata Sabil. Ia merasa tak enak hati.

“Tidak apa-apa, Sabil. Besok kita main bersama lagi,” kata Hasan sebelum berlalu sarangnya.

Akhirnya Sabil dan teman-temannya kembali tidur. Harimau yang disangka Sabil ternyata hanyalah anak kucing hutan.

Penulis: Sunarti
Editor: Ummik Gufy

Bagikan artikel ini:

Baca Juga