Karim Hilang & Tersesat

Bagikan artikel ini:

Siang itu, matahari sangat terik. Namun, suasana hutan tetap sejuk dan nyaman. Hasan laba-laba mungil sedang bergelantungan di atas rumah Sabil si semut kecil.

Di bawah pohon tempat Hasan bermain, tampak Laila burung pipit sedang membersihkan sayapnya. Di sampingnya ada seekor semut yang sedang mengelus-elus kaki belakangnya. Dialah si Sabil. Beberapa hari lalu Sabil memang terluka.

Jinang, jangkrik kecil terbang dari arah sungai. Dia hinggap di antara Sabil dan Laila. Sambil terengah-engah Jinang berkata, “Teman-teman, gawat ini.”

Laila dan Sabil menatap Jinang dengan kebingungan. Si Hasan turun serta-merta. Mereka berempat berdiri sambil berhadapan.

“Ada apa Jinang?” tanya Sabil.

“Si Karim tiba-tiba menghilang,” kata Jinang sambil mengatur napasnya.

“Kamu ‘kan tadi pagi bersamanya. Lantas ke mana Karim pergi?” tanya Laila.

“Iya aku tadi bersamanya. Tapi setelah itu aku pulang mengambil makanan buat adikku.

Sudah beberapa langkah dari sungai, aku mendengar suara Karim berteriak meminta tolong,” jelas Jinang.

“Haa?” serempak Hasan, Sabil dan Laila berteriak.

“Terus, kamu sudah mencarinya?” tanya Sabil mulai panik.

“Sudah. Aku sudah mencari ke sekeliling kami minum dan membersihkan diri. Sampai aku takut, lantas buru-buru terbang tadi. Padahal aku jarang sekali terbang,” jelas Jinang.

“Kalau begitu ayo kita berangkat. Jinang kamu sebagai penunjuk arah, ya! Ayo kawan-kawan kita berangkat!” ajak Sabil dengan penuh semangat.

Mereka berempat akhirnya sepakat mencari Karim. Jinang sebagai penunjuk jalan dan Sabil yang memimpin pencarian. Mereka menuju ke arah sungai di mana mereka juga terbiasa minum, mandi pun bermain.

Sepanjang perjalanan, mereka memanggil-manggil Karim. Namun, tidak pernah ada jawaban dari nama yang dipanggil.

“Ini kenapa sungainya jadi pasang?” kata Sabil sangat panik.

“Iya. Tadi waktu aku pergi mencari Karim, sungai tidak seperti ini,” jawab Jinang.

“Mungkinkah di hulu sedang hujan deras, ya?” kata Laila.

“Coba kamu lihat sebentar Laila. Tapi hati-hati, ya!” kata Sabil.

Sesuai arahan Sabil, si Laila segera terbang ke atas. Dia menyusuri pepohonan dan terus terbang naik. Setelah beberapa saat dilihatnya di barat daya, tempat di arah hulu sungai tersebut sedang hujan lebat.

Tak lama kemudian gerimis mulai menyentuh tubuh mungilnya. Angin sepoi bercampur kabut juga mulai menerpanya. Ia pun segera turun dengan perlahan dan hati-hati.

“Iya teman-teman, di hulu sedang hujan deras dan lebat. Aku melihat awan kehitaman di sana, di barat daya,” jelas Laila.

“Kalau begitu segera kita mencari Karim sebelum hujan turun,” ajak Sabil.

Mereka berjalan menyusuri sungai itu.

“Karim, Karim!”

“Karim, dimana kamu?”

“Karim… Kamu dimana?”

“Toloooong, toloooong!” Terdengar suara meminta tolong dari kejauhan.

Mereka berempat terkejut dengan suara itu. Suara yang sayup-sayup dan terdengar sangat jauh.

Di lain tempat Karim ternyata berada di tepian hutan. Kaki kanan belakangnya terjerembab di sebuah rawa-rawa. Untungnya, rawa-rawa itu tidak menariknya ke dalam lumpur. Karim berusaha keras menarik kakinya, namun gagal.

Tubuh Karim berkeringat dan mukanya pucat. Karena sangat takut, kancil mungil itu berteriak-teriak sekuat tenaga. Hal yang tidak biasa dilakukan oleh Karim. Karena dia adalah kancil pemberani dan sangat cerdik. Baru kali ini dia sangat ketakutan.

Hujan deras mulai menerpa tempat Karim. Karim semakin panik. Digerakkan berkali-kali kaki belakangnya, namun lagi-lagi dia gagal. Kakinya seperti ada yang mengikat di dalam lumpur. Dia pun kelelahan dan akhirnya tersungkur.

Hujan mulai turun dengan derasnya. Petir menyambar. Tubuh Karim terkena air hujan secara langsung dan dia merasa sangat dingin. Dia yang terbiasa berada di dalam hutan dengan curah hujan yang dihalangi oleh tumbuh-tumbuhan besar, jadilah air hujan tidak langsung mengenai tubuhnya.

Karim hampir putus asa. Dia berteriak dengan posisi masih tersungkur.

“Tolong … Siapapun tolong aku …”

Air di rawa-rawa mulai naiik. Lambat laun, Karim merasakan ringan di kakinya yang terjerat itu. Dia pun semakin semangat untuk bangun. Dia ulangi sekali lagi menggerakkan kakinya bersamaan. Dan kali ini dia lebih kuat.

“Syukurlah,” ucapnya dengan bahagia.

Karim pun lari sekuat tenaga di tengah hujan deras. Untungnya dia ingat arah saat dia keluar dari hutan itu. Dia berlari dan terus berlari.

Di tengah pikirannya yang ingin segera sampai di hutan tempat dia tinggal dan bertemu dengan teman-temannya, leher Karim terasa bergidik. Bukan lagi karena tidak bisa berdiri, tapi seperti ada sesuatu yang menempel di kaki belakangnya.

Sampailah Karim di hutan tempat dia tinggal. Dan di dalam hutan, hujan deras tidak begitu terasa. Namun, sayangnya dia tidak bertemu dengan teman-temannya.

“Sabil, Hasan, Laila, Jinang, kalian di mana?!” teriak Karim.

“Jinang, Sabil, apakah itu kamu?” tanya Karim begitu mendengar suara di antara rerumputan.

“Jinang, tolong aku. Sabil, apa itu kamu?” kata Karim.

Ternyata yang mendekat ke arah Karim adalah Sabil. Sabil terbelalak melihat yang menyapanya adalah Karim.

“Karim, kamu sudah pulang?” tanya Sabil dengan senang.

“Iya, aku tadi tersesat setelah berpisah denganmu,” jelas Karim.

“Aku tadi di sungai bersama Jinang. Dan aku melihat ada air dari hulu sungai itu seperti ada buaya atau ular besar. Tiba-tiba air naik dengan gemuruh yang sangat keras. Aku lupa kalau harusnya naik ke atas kemudian ke arah kiri. Karena panik aku lari ke kanan. Yah, akhirnya aku lupa arah. Di benakku ada sesuatu yang mengejar, entah buaya atau ular besar,” lanjut Karim.

“Karim, Karim. Tidak biasanya kamu begitu,” jawab Sabil.

“Kami tadi mencarimu hingga ke ujung hutan. Tapi tidak menemukanmu. Dan hujan deras mulai turun, akhirnya kami kembali,” kata Sabil.

“Karim, kamu sudah kembali,” suara Jinang. Mereka datang dari arah yang berbeda.

“Hai Karim, kamu sudah pulang.” Laila muncul dari balik pohon besar di dekat mereka.

“Karim, kamu baik-baik saja kan?” kata Hasan yang tiba-tiba juga bergelantungan di atas mereka berempat.

“Iya, syukurlah aku bisa kembali. Tapi aku masih belum bisa melepas sesuatu yang ada di kaki belakangku ini. Tadi aku terjerembab di rawa-rawa berlumpur. Kaki belakangku seperti terikat sesuatu sehingga aku sulit beranjak dari rawa-rawa itu,” jelas Karim.

“Setelah beberapa saat hujan deras, kakiku bisa kutarik perlahan. Mungkin sesuatu itu terkena air hujan sehingga bisa terangkat dari lumpur. Larilah aku sekuat tenaga menuju ke sini,” lanjut Karim.

“Haaa … Itu seperti tali yang mengikat kakimu,” kata Laila.

“Iya, benar. Itu seperti tali. Mungkin batang daun enceng gondok yang sudah mengering,” kata Sabil sambil berjalan menuju kaki belakang si Karim.

“Ayo teman-teman, kita buka!” ajak Sabil.

Akhirnya mereka bersama-sama membantu membuka tali yang mengikat kaki Karim. Sedikit demi sedikit tali itu pun terlepas dan mereka semua berbahagia. Sabil memutarkan helaian-helaian serat-serat daun enceng gondok di kaki Karim. Sabil juga memberikan arahan-arahan untuk bisa melepas ikatan batang daun enceng gondok itu. Teman-temannya pun melakukannya dengan bergotong-royong.

“Besok-besok, kalau panik, meskipun harus lari, kamu tetap hati-hati, Karim. Apalagi sesuatu yang engkau takutkan itu belum tentu ada,” kata Sabil.

“Iya, Sabil. Ke depan aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku jadi sengsara sendiri karena ulah gegabahku.” jawab Karim.

Sekian.

Ngawi, 2 Januari 2026
Penulis : Sunarti
Editor : Ummik Gufy

Bagikan artikel ini:

Baca Juga