Bunga Saliara untuk Laila

Bagikan artikel ini:

Pada pagi yang cerah, Sabil dan teman-temannya sedang mencari makanan di sepanjang tepian sungai. Ada Sabil si semut kecil, ada Karim si kancil yang cerdik, ada Jinang si jangkrik kecil dan ada Hasan si laba-laba imut. Tinggal Laila yang tidak bersama mereka. Biasanya, mereka berlima, tapi hari ini Laila tidak ikut serta.

Sabil memimpin teman-temannya menuju tikungan sungai yang biasanya banyak buah-buahan terhenti di situ karena daun-daunan atau ranting yang menyumbat aliran sungai. Perjalanan mereka menuju Sungai itu sangat hati-hati. Jalan yang mereka lewati cukup licin, karena semalaman hujan deras.

“Sabil! Tunggu!” suara melengking tinggi dari kejauhan terdengar oleh mereka.

“Seperti suara Laila itu,” kata Sabil.

Benar saja, itu suara Laila. Laila adalah seekor burung pipit yang lincah dan cantik. Dia terbang rendah dan terburu-buru menyusul Sabil dan teman-temannya yang sudah hampir sampai di tikungan sungai.

“Aauughh!”

Tiba-tiba ada suara melengking kesakitan, disusul dengan beberapa daun segar berjatuhan. Bersamaan dengan dedaunan itu, ada seekor burung pipit yang jatuh terlentang. Tubuhnya bergerak-gerak berusaha untuk bangun.

“Laila … Kamu…” kata Karim dengan terkejut.

Sabil dan teman-temannya segera mendekati tubuh Laila dan segera memberikan pertolongan. Karim menekan punggung Laila perlahan dengan kaki depannya. Sementara yang lain mengelus dada dan sayapnya.

Terengah-engah napas Laila sambil menahan rasa sakit.

“Aduh, punggungku sakit,” keluh Laila.

“Laila, kenapa kamu terburu-buru?” tanya Sabil.

“Iya, aku ingin segera menyusul kalian,” jawab Laila.

“Sebenarnya ada apa kamu terburu-buru?” tanya Hasan.

“Tidak ada apa-apa. Aku cuma ingin cepat sampai dan bersama kalian,” jawab Laila sambil berdiri.

Laila membersihkan sayapnya. Bagian pangkalnya terasa ngilu. Dia meringis ketika tangan Jinang menyentuh bagian pangkal sayap kanannya.

“Ah, sakit!” teriak Laila.

Bertapa terkejutnya Hasan saat dia melihat pangkal sayap kanan Laila. Dia melihat keadaan yang berbeda dari keadaan biasanya. Pangkal sayap kanan Laila luka lebam.

“Hah! Sayap Laila terluka!” seru Hasan.

Sabil dan teman-teman lainnya mendekati sayap yang ditunjuk Hasan.

“Teman-teman, aku ada ide. Kita harus menemukan bunga Saliara. Bunga itu berkhasiat mengobati luka!” seru Sabil

“Hmm… Seperti apa bunga Saliara itu, Sabil?” tanya Jinang.

“Bunganya indah berwarna-warni. Bentuknya kecil. Tapi …” Sabil berhenti menjelaskan sejenak.

“Ta-tapi apa, Sabil?” Hasan penasaran.

“Baunya kurang menyenangkan…” sahut Sabil pelan.

“Tidak apa-apa! Aku saja yang mencari. Aku bisa lebih cepat mencarinya. Soal bau, tenang saja. Saat mendekati bunga, aku bisa berusaha menahan napas,” kata Karim si Kancil.

“Baiklah, hati-hati, Karim,” kata Sabil menyemangati.

Karim segera melesat berlari membelah semak-semak mencari bunga Saliara.

Laila masih meringis kesakitan. Hasan berinisiatif mengambilkan air minum, namun dia hanya mampu membawakan sedikit saja. Bagi Laila, perhatian Hasan sangat dia hargai. Laila berterima kasih kepada Hasan. Ternyata Jinang sepemikiran, dia pun mengambilkan minum untuk Laila.

Karim telah kembali dan segera memberikan bunga Saliara kepada Sabil. Sabil dengan terampil meremas bunga Saliara dan mengoleskan ke sayap Laila dengan hati-hati. Laila sedikit meringis, namun tidak lama.

“Wah, sudah agak enakan Sabil. Terimakasih banyak teman-teman. Kalian luar biasa,” kata Laila.

Mereka pun tertawa bersama. Sikap terburu-buru Laila bisa mengakibatkan kecelakaan. Untungnya Laila memiliki teman-teman yang peduli dan saling bekerjasama untuk membantunya.

Penulis : Sunarti
Editor: Ummik Gufy

Bagikan artikel ini:

Baca Juga