Malam pekat menyelimuti hutan di mana Sabil dan teman-temannya tinggal.
Cahaya rembulan menembus pepohonan yang lebat. Memberikan semburat terang di depan Sabil, semut kecil berbaring.
Dari sore hari badan Sabil terasa kurang sehat. Dia pun berbaring di luar sarangnya. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah sungai. Sabil terkejut dan terbangun. Tanpa dia duga, tubuhnya ternyata telah terseret arus air.
Sabil berada di atas dedaunan kering yang mengalir di atas derasnya sungai. Dia merasa pusing karena daun tersebut berputar-putar.
Daun kering itu semakin cepat jauh dari sarang Sabil. Dan tubuh Sabil terasa limbung. Sabil pun segera berpegangan kuat. Dia menggigit daun dengan sangat kuat sambil memejamkan mata.
Sabil merasa daun itu melayang-layang. Telinganya mendengar suara yang gemuruh melebihi aliran sungai. Betapa terkejutnya Sabil setelah dia memberanikan diri membuka mata. Aliran air terjun yangsangat tinggi. Sabil semakin erat berpegangan.
Sabil merasa tubuhnya terbentur sesuatu. Dan akhirnya tubuh mungil itu terpental jauh hingga terjatuh di aliran sungai. Aliran sungai itu cukup deras pula. Sabil terbawa aliran sungai beberapa meter.
Tubuhnya kian lemah, namun dia tetap berusaha berenang. Dia pun banyak meminum air tanpa sengaja. Hingga dia menabrak sesuatu di belakangnya.

“Apa ini? Semoga saja daun atau apa yang bisa membuatku tidak tenggelam,” kata Sabil.
Ternyata benar dugaan Sabil. Itu adalah tumpukan dedaunan. Perlahan Sabil mulai merangkak naik ke atas dedaunan tersebut. Betapa bahagianya Sabil karena dedaunan itu sangat banyak dan tidak lagi terbawa arus. Rupanya ada sebatang pohon besar yang tumbang dan menghalangi arus sungai. Daun-daun itu terhenti karena terhalang pohon itu.
Tapi Sabil merasa sedih. Dia berteriak-teriak memanggil teman-temannya. Namun, suaranya seperti tidak bisa keluar, tercekat di tenggorokan. Sabil mulai kebingungan. Dia terus berteriak. Sementara malam kian terasa dingin dan membuat Sabil menggigil kedinginan.
“Sabil, Sabil!”
Tiba-tiba telinga Sabil mendengar ada yang memanggilnya. Dia pun merasa sangat bahagia.
Tapi, di mana suara itu?
“Sabil, Sabil, bangun!” kata Jinang yang sudah berdiri di sisi Sabil.
“Bangun Sabil!” kata jangkrik kecil itu sambil mengelus punggung Sabil. Rupanya Jinang tahu kalau temannya ini mimpi buruk hingga menginggau.
“Yaa Allah, Alhamdulillah, Alhamdulillahiladzi ayhana wa amatana wa ilaihi nuzur. Terimakasih banyak Jinang, kamu membangunkan aku,” kata Sabil yang sudah terbangun.
“Kamu mimpi buruk?” tanya Jinang.
“Iya, sungguh hari buruk bagiku Jinang,” kata Sabil.
Sabil pun menceritakan mimpi buruknya. Jinang dengan setia mendengarkan. Ternyata Sabil lupa berdoa dan ditambah tubuhnya yang kelelahan jadilah dia tidak fokus untuk berdoa sebelum tidur.
Jinang yang setia memberikan nasihat kepada Sabil. Sabil merasa lebih baik setelah bisa menceritakan tentang mimpinya serta mendengarkan nasehat temannya itu.
Selesai
Ngawi, 4 Januari 2026
Penulis : Sunarti
Editor : Ummik Gufy