Pagi itu, cuaca cerah. Jinang, si jangkrik terbangun pagi-pagi karena terkejut dengan suara Laila, si burung pipit.
“Ada apa Laila? Sepagi ini sudah di rumahku?” tanya Jinang keheranan.
Sebab tidak biasanya Laila sepagi ini menemui Jinang, kecuali ada hal yang sangat penting.
“Jinang, aku barusan dengar kabar, ada aliran sungai yang sangat deras. Sungai itu muncul tiba-tiba tadi malam. Kata teman-teman, alirannya sangat deras. Letaknya agak jauh dari sungai ini,” jelas Laila, sambil menunjuk sungai di dekat mereka.
“Apa benar? Jangan-jangan di hulu sana ada hujan lebat, Laila,” kata Jinang.
“Iya, bisa jadi. Ayo kita cari Sabil, Karim dan Hasan,” ajak Laila menuju suatu arah.
“Memangnya di mana letak sungai baru itu, Laila?”
“Di dekat sarang Sabil, Jinang,” kata Laila dengan mengepakkan sayapnya perlahan.
Rumah Sabil memang berada tak jauh dari sungai. Tepatnya di bawah pohon besar yang sangat rindang. pohon tersebut akarnya sebagian mengarah ke sungai dan sebagiannya menjulur di daratan. Selain airnya yang sangat jernih, aliran sungai itu sangat tenang. Biasanya mereka bermain di dekat pohon itu dan mengambil air di sungai tersebut sebagai sumber minuman dan kebutuhan lain.
“Ayo kalau begitu agak cepat ya …!” ajak Jinang dengan panik. Langkahnya tergesa, sehingga lompatannya agak tinggi. Karena kaki belakang agak pendek, hal ini menyulitkan Jinang untuk melompat dengan cepat pula. Namun, dia tetap bersemangat menemukan rumah temannya.
Perjalanan mereka menuju sungai baru menyusuri jalan yang biasanya mereka lewati untuk bermain maupun untuk mencari makanan. Dengan petunjuk Laila mereka segera sampai di sarang Sabil.
Dari atas Laila melihat Sabil sibuk keluar masuk sarang. Ada Karim, si kancil yang baik hati berada di dekat pohon besar itu. Sementara dilihatnya pula si laba-laba temannya yang bernama Hasan.
“Sabil, apa kau dan kawan-kawanmu baik-baik saja?” tanya Jinang tak sabar.
“Iya Sabil, bagaimana sarangmu apa terdampak luapan air sungai yang baru?” tanya Laila tak kalah panik.
“Hai Jinang dan Laila, kalian sudah sampai di sini? Kalian sudah dengar sungai baru yang lebih deras alirannya ya?” jawab Sabil sambil mengusap keringatnya.
Tangan mungilnya memegang seonggok makanan. Sementara badannya penuh dengan peluh. Dia berhenti sejenak di dekat Jinang.
“Hai Jinang, hai Laila, kalian sudah datang? Ayo bantu Sabil memindahkan makanan-makanan ini ke tempat yang aman,” ajak Karim.
“Ada sarang yang di ujung sana terdampak luapan sungai. Rupanya sungai baru itu luapannya mempengaruhi aliran sungai ini. Jadi sarang yang paling bawah, di mana kami menaruh makanan akhirnya terkena air. Jadi kami harus mengeluarkan dari dalam ruangan itu,” jelas Sabil.
Tubuhnya yang mungil tampak bergetar. Mata yang biasanya berbinar, tiba-tiba terlihat sayu. Kedua tangannya pun ikut gemetar.
“Sini Sabil, biar aku yang bawa,” kata Laila.
“Kenapa kamu tampak tidak sehat Sabil?” tanya Jinang.

Teman-temannya pun panik. Jinang mendekati tubuh Sabil yang terkulai. Laila menaruh perlahan makanan di paruhnya dan mendekati tubuh Sabil. Sementara Hasan dan Karim turut mendekati tubuh Sabil yang masih belum ada tanda-tanda bergerak. Masing-masing juga menaruh makanan di atas dedaunan.
“Sabil, kamu kenapa?” Jinang menggoyang tubuh Sabil perlahan.
Karim si kancil yang cerdik berpikir sejenak sebelum dia melihat perlahan kaki Sabil. Dia mengendus kaki belakang Sabil yang dilihatnya tampak agak berbeda dari kaki kanannya.
“Oh aku tahu, kaki Sabil keseleo. Karena dia merasakan sangat sakit kemudian dia pingsan. Dari tadi dia tidak pernah beristirahat barang sejenak. Bahkan minum saja tidak,” kata Karim.
“Oh jadi begitu. Lantas kita musti melakukan apa?” tanya Hasan panik.
“Eum, begini, kamu ‘kan punya air liur yang bisa menyembuhkan itu, Hasan. Itu yang biasanya kamu gunakan untuk sarang telur-telur itu. Ini kaki Sabil ada lukanya juga. Jadi bisa dipakai untuk membantu mengobati luka si Sabil,” jelas Karim.
“Oh iya aku ingat teman-teman, kalau sarang dari telur laba-laba atau disebut juga spidweb itu memiliki potensi untuk membantu penyembuhan luka karena kandungan proteinnya, seperti fibrinoin, yang dapat membantu menghentikan pendarahan dan mempercepat pembentukan jaringan baru. Baiklah akan aku berikan pada Sabil secepatnya,” jawab Hasan seketika itu sambil berjalan menuju kaki Sabil.
Setelah menunggu beberapa saat, Laila mengangkat tubuh lemah Sabil ke arah tanah gundukan Yanng lebih tinggi. Perlahan dia turunkan tubuh semut yang lemah itu di atas dedaunan kering.
Hari semakin terang seiring Sabil yang mulai sadarkan diri. Jinang dan Hasan menunggu Sabil sadar sambil sesekali mengelus tubuh Sabil. Sementara Laila dan Karim membantu semut lain memindahkan makanan ke tempat yang lebih tinggi.
“Jinang, Hasan aku kenapa?” tanya Sabil dengan kebingungan.
“Oh kamu tadi pingsan. Mungkin karena kesakitan dan kelelahan,” jawab Jinang.
“Iya Sabil, mungkin juga lapar ya, Sabil?” sahut Hasan.
Tak lama kemudian Laila dan Karim mendekati mereka bertiga. Mereka tampak bahagia. Wajah Sabil mulai cerah.
“Ayo Sabil, minum dulu. Ini aku bawakan air,” kata Laila.
“Iya, terimakasih Laila. Dan teman-teman semua. Kalian memang teman-teman yang baik,” jawab Sabil.
“Kamu istirahat dulu saja. Biar kami yang membantu memindahkan makanan-makanan itu,” kata Laila.
“Aku sudah baikan, kok, Laila. Tidak apa-apa, ini sudah aku makan juga satu gandum yang kalian bawa,” jawab Sabil.
Setelah Sabil selesai makan, mereka melanjutkan pekerjaan memindahkan makanan-makanan dari dalam rumah semut itu. Mereka bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan dengan semangat. Terlihat sesekali Sabil meringis sambil mengelus lukanya yang telah dibalut oleh Hasan. Dia merasa disayangi oleh teman-temannya, meskipun dia menderita. Karena perhatian itu, jadilah derita itu tidak dia rasakan.
Sekian.
Ngawi, 1 Januari 2026
Penulis : Sunarti
Editor : Ummik Gufy